Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan

25 Agustus 2016

Dalam Keadaan Apapun, Berusahalah Untuk Tidak Sombong

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat pertama,
Sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua,
Sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga,
Sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik,
Semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Cobalah setiap hari, kita memeriksa batin dan pikiran kita. Kita ini manusia hanya seperti debu, yang suatu saat akan hilang dan lenyap, meninggal.

Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang dalam. Mari berlatih untuk menghindari segala bentuk kesombongan.

thanks to iphincow.com

Jangan Sombong

Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun mencari pelaut untuk berdiskusi.

Filsuf menanyakan kepada pelaut itu : ” Apakah Anda mengerti filosofi?”
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda." Kata filsuf terebut.

"Apakah anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.
Filsuf itu menggelengkan kepalanya seraya berkata : “Sayang sekali, bahkan anda tidak mengerti akan matematika. Berarti anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan anda.”

Tiba-tiba ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat telah kemasukan air, Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah anda bisa berenang?”

Filsuf dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat tolonglah saya.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan anda? Berarti anda akan kehilangan seluruh kehidupan anda.”

Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.

thanks to iphincow.com

Membersihkan Pikiran


Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini? Menutupi telapak tangan saja sulit. Tapi kalau daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi. Begitu juga bila diri kita ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana. Bahkan Bumi ini pun akan tampak buruk.

Jangan pernah menutup mata kita, walau hanya dengan daun yang kecil. Jangan menutupi diri kita dengan sebuah pikiran buruk, walau hanya seujung kuku. Bila diri kita tertutup, maka tertutuplah semua.

Air yang banyak di lautan luas yang dalam takkan pernah sanggup menenggelamkan sebuah perahu kecil yang ada di atasnya, kecuali kalau air itu mulai masuk ke dalam perahu. Demikian juga dengan hidup ini, gosip dan segala penilaian negatif akan selalu ada di sekeliling kita. Namun semuanya itu takkan sanggup menenggelamkan kita, kecuali kita membiarkan semua itu masuk ke dalam pikiran kita.

Menjaga pikiran itu bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan adalah tanggung jawab kita masing-masing.

Kita tidak bisa menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang hadir dalam hidup kita bila kita sendiri tidak bertanggung jawab karena sudah membiarkan “sampah” masuk & mengotori hidup kita.

Kita harus menyaring apapun yang masuk melalui pikiran kita sebagai pintu gerbangnya. Bila pikiran kita BAIK, maka akan terasa nyaman hidup kita. Jangan lengah.

thanks to iphincow.com

30 November 2015

Untuk Apa Hidup Kalau Hanya Numpang Ngeluh

         Manusia memiliki potensi yang sangat luar biasa. Namun, manusia terkadang mudah rapuh dan terjebak pada keadaan yang justru membuatnya lemah dan hanya pandai mengeluh. Mengeluh seolah menjadi pilihan efektif saat seseorang didera cobaan atau ujian.
        Adanya cobaan atau ujian dalam hidup adalah sesuatu yang niscaya. Keduanya adalah bagian dari drama hidup yang telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta. Manusia hanya dituntut untuk menjadikannya sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pematangan diri, bukan mengeluh atau bersedih. Mengeluh tidak memberikan apa - apa kepada manusia, kecuali kehancuran dan keterpurukan.
      Keaktifan, kreativitas, dan inisiasi menjadi salah satu "penolong" agar manusia menjadi pemenang atas ujian dan cobaan hidup yang melingkupinya


                                                                                                              - Khalifi Elyas Bahar -










Source : buku "Untuk Apa Hidup Kalau Hanya Numpang Ngeluh" karya Khalifi Elyas Bahar

24 November 2015

Akhlak Tawadhu'

Secara bahasa, akhlak berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan, tingkah laku atau tabiat. Secara terminologi, akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Sedangkan secara istilah, akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat Akhlak ini nampak pada diri seorang muslim ketika dia melaksanakan berbagai aktivitas, seperti ibadah, mu’amalah dan lain sebagainya. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
          Semua akhlak yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW bersumberkan dari Al-Qur’an. Akhlak ini telah membentuk karakter tersendiri dalam diri beliau dan berpengaruh besar terhadap kehidupan sosialnya. Suatu hari Sayidah ‘Ā’isyah ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad SAW, ‘Ā’isyah kembali bertanya kepada orang yang menanyakannya: “Apakah kamu pernah membaca Al-Qur’an?” dijawab: “Pernah.” ‘Ā’isyah meneruskan jawabannya: “Akhlak Nabi adalah al-Qur’an.”
        Apabila akhlak Rasulullah SAW bersumber dari Al-Qur’an, maka sifat rendah hati yang memancar dari rumah Nabi juga berasal dari Al-Qur’an. Allah SWT menegaskan bahwa Dia akan menjauhkan rahmat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya dari orang-orang yang sombong dan tidak mempunyai sifat rendah hati. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-A’rāf, 7: 146, yang artinya: “Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.”
          Tawadhu’ adalah sifat rendah hati namun tidak sampai pada taraf merendahkan kehormatan diri. Tawadhu’ ini termasuk akhlak mulia. Orang yang tawadhu’ adalah orang yang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya yakni dari Allah SWT dan dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan ataupun merasa lebih baik dari orang lain. Disaat seseorang semakin bertambah ilmunya, maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Semakin bertambah amalnya, maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya, maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya, maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya, maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka. Ini karena orang yang tawadhu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersyukur atau malah kufur.
            Sebenarnya tawadhu’ sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya agar tetap tulus dan ikhlas. Memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan ini agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah. Sangat banyak godaan yang datang dan selalu berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh yang mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.Jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu’.
             
Berikut beberapa dalil tentang pentingnya akhlak tawadhu’ :
  • “Adapun hamba – hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang – orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang – orang bodoh menyapa mereka (dengan kata – kata yang menghina), mereka mengucapkan salam” [QS. Al Furqaan : 63]
  • “Jangan sekali – kali engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir), dan jangan engkau bersedih hati terhadap mereka dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman” [QS. Al-Hijr : 88]
  • Dari ‘Iyadh bin Himar رضي الله عنه, berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku, hendaklah engkau semua itu bersikap tawadhu’, sehingga tidak ada seorang yang membanggakan dirinya di atas orang lain, yakni bahwa dirinya lebih mulia dari orang lain- dan tidak pula seorang itu menganiaya kepada orang lain, karena orang yang dianiaya dianggapnya lebih hina dari dirinya sendiri.” [HR. Muslim]
  • Dari ‘Iyadh bin Himar رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ telah mewahyukan kepadaku; "Bertawadhu'lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.” [HR. Muslim]
  • Dari Anas رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم memiliki seekor unta yang diberi nama Al-’Adhba` yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka beliau bersabda: “Menjadi hak Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya.” [HR. Bukhari (Fathul Bari’-2872)]













source : 
http://adiarsa-na-fkh10.web.unair.ac.id/artikel_detail-36323-%20Catatan%20Jalan%20Dakwah TAWADHU%E2%80%99%2 %28RENDAH%20HATI%29.html
http://indahnyaislam-atik.blogspot.com/2011/04/rendah-hati-bukan-rendah-diri.html
https://akhlakrasulullahsaw.wordpress.com/2012/03/01/rendah-hati/

24 Januari 2015

Marah & Putus Asa

       Alkisah, seekor ular memasuki gudang tempat kerja tukang kayu di sore hari. Kebiasaan si tukang kayu, membiarkan sebagian peralatan kerjanya masih berserakan dan tidak merapikannya. Nah ketika ular itu berjalan kesana kemari di dalam gudang, tanpa sengaja ia merayap di atas gergaji. Tajamnya mata gergaji, menyebabkan perut ular terluka. 
          Tapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan itu menyebabkan luka parah di bagian mulutnya. Marah & putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya. Ia pun membelit kuat gergaji itu. Maka tubuhnya terluka amat parah dan akhirnya ia pun mati.. 

Kadangkala, di saat kita marah, kita ingin melukai orang lain. Tapi sesungguhnya tanpa disadari, yang dilukai adalah diri kita sendiri. Mengapa? Karena perkataan dan perbuatan di saat marah adalah perkataan dan perbuatan yang biasanya akan kita sesali di kemudian hari. Mari, kita sama-sama belajar untuk tidak marah (atau setidaknya mampu meredakan marah) terhadap situasi buruk yang mungkin kita alami.




source : iphincow.com

22 Januari 2015

Kisah Semut dan Lalat

           Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.

          “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

             Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

              Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

             Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.” Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?

           Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”


"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda"



source : iphincow.com